Ngaji HIKAM ibnu atha illah ك ل ك لام ي ب ر ز و ع ل ي ه ك س و ة الق ل ب ال ذي م ن ه ب ر ز

Ngaji HIKAM ibnu atha’illah
كُلُّ كَلامٍ يَبْرُزُ وَعَلَيْهِ كِسْوَةُ القَلْبِ الَّذي مِنْهُ بَرَزَ
Setiap ucapan yang keluar pasti menunjukkan kondisi hati/ corak bentuk hati yang mengucapkan dan mengeluarkannya
Jadi apabila hati bersinar nurnya makaperkataannya pasti membawa nur juga,sehingga bisa diterima oleh hati orang yang mendengarkannya, berbeda orang yang hanya mengaku-aku (ahli hikmah), perkataan yang keluar itu membawa kegelapan, yakni tidak bisa di ambil manfaatnya (masuk telinga kanan dan keluar lagi lewat telinga kiri).
Dan lagi tiap-tiap tempat (wadah) itu pasti akan mengeluarkan yang terisi didalamnya,sebagai contoh :gelas atau lainnya yang terisi kopi, itu pasti yang dikeluarkan juga kopi, tidak mungkin air putih.
Ada seorang yang berkata : Mengapa sekarang hati oranr-orang tidak bisa khusyu’ dan matanya tidak bisa mencucurkan air mata. Maka di jawab oleh Syeih Muhammad bin Wasi’ : kemungkinan yang demikian itu penyebabnya dari kamu sendiri, sebab bila nasihat itu keluar dari hati yang ikhlas pasti masuk kedalam hati juga. Sebaliknya kalau hanya berupa kata-kata dilidah dan fantasi belaka, maka ia akan masuk telinnga kanan dan keluar lewat telinga kiri.
Syeih Abul Abbas Al-Mursy ra. Berkata: keadaan hamba itu hanya ada empat macam :
Nikmat
bala’
taat
maksiat
Maka jika didalam nikmat kewajiban hamba bersyukur kepada Alloh,
dan jika menerima bala’ maka hamba harus bersabar,
dan jika dapat melakukan taat harus merasa itu taufiq dan hidayah dari Alloh, maka konsewensinya harus banyak memuji dan mengingat ALLAH
dan bila tergelincir dalam dosa/ maksiat maka harus meminta ampun dg banyak beristighfar.
مَنْ أُذِنَ لهُ في التَّعْبيرِ فُهِمَتْ في مَسامِعِ الخَلْقِ عِبارَتُهُ، وَجُلِّيَتْ إلَيْهِمْ إشارَتُهُ
Siapa yang telah diberi izin oleh Allah untuk menyampaikan ajaran, maka apa yang diucapkannya akan dapat dipahami oleh yang mendengarnya, dan isyarat-isyarat yang ia berikan akan terang diterima oleh mereka.
Maksud dari orang yang sudah mendapat izin dari Alloh yaitu : orang yang mengajar/memberi nasihat itu Lillahi (karena Alloh) wa Billahi (dan sebab bantuan/pertolongan Alloh, wa Fillahi(dalam tuntunan hukum Alloh).
Syeih Junaidy Al-Baghdady ra. Berkata : Kalimat/perkataan yang benar itu hanya yang diucapkan setelah mendapat izin, sebagaimana firman Alloh :
لاَيَتكَلمُونَ إلاَّ من اَذِنَ لَهُ الرحمن وقال صوابا
“ Mereka tidak berkata-kata, kecuali yang diizinkan oleh Ar-Rohman (Alloh) dan berkata dengan benar”.
Syeih Hamdun bin Ahmad bin Umaroh Al-qosshor ketika ditanya: Mengapa kata-kata orang dahulu jauh lebih berguna dari ajaran kita ini? Jawabnya : Karena mereka bicara /berkata untuk kemuliaan islam, dan keselamatan jiwa dan untuk mendapat keridhoan Alloh. Sedangkan kita bicara untuk kemuliaan diri, dan mencari dunia, dan keridhoan penerima/pendengar (makhluk).
Semoga bermanfaat
29/10/2020

Tinggalkan Balasan

Tên của bạn *
Email *
Cảm nhận *